Rabu, 01 Februari 2012

BUDAYA BATAK

AMPARA DAN PENGERTIANNYA LATAR BELAKANG Disadari dan sangat dirasakan bahwa dimulai akhir 80-an dan berkembang pesat pada dasawarsa 90an, kemudian mulai melegenda sampai saat ini, telah muncul istilah yang sangat populer dikalangan orang muda suku batak (halak kita) dan terutama bagi mereka yang berada di daerah perantauan (luat parjalangan) yang biasanya adalah wilayah perkotaan. Dikatakan bagi orang muda karena secara umum dan awalnya hal ini tidak pernah disebutkan dan berlaku bagi orang-orang tua (natua-tua), yang karena pengetahuan dan asal langsung dari kampung halaman (bona pasogit) sehingga tidak merasakan perlu memakai istilah tersebut, dimana seperti kita ketahui bersama bahwa mereka memiliki pengetahuan kekerabatan yang jauh lebih kental dan melekat dibandingkan orang-orang muda apalagi yang telah lahir dan atau tumbuh besar diperkotaan. Disebutkan juga di perantauan, karena di kampung halaman atau daerah asal orang batak tidak memerlukan penggunaan istilah tersebut akibat saling tahu, saling kenal dan saling memahami hubungan antara satu dengan lainnya mengenai garis silsilah dan kekerabatan (tarombo) setiap orang yang ada di lingkungannya. Namun demikian secara makna dan secara hakekat masih banyak kita yang belum sepenuhnya mengerti dan memahami arti yang sebenarnya dari istilah tersebut, termasuk penggunaannya dalam hubungan kekerabatan sehari-hari, sehingga tanpa kita sadari sebenarnya kerap kali kita keliru mengartikan dan menggunakannya. Berdasarkan hal-hal tersebut saya melakukan penelitian kecil melalui penelahaan dan penelusuran berdasarkan keterangan-keterangan yang saya peroleh dari berbagai sumber untuk mencoba mendefinisikan dan meletakkan penggunaan yang tepat untuk istilah yang populer tersebut. DEFINISI dan PEMBAHASAN Istilah yang popular dan mulai melegenda itu adalah AMPARA (appara) yang dalam kata yang lainnya disebutkan juga dengan SANINA (senina). Ampara/appara/sanina/senina adalah sebuah bentuk hubungan kekerabatan dalam masyarakat suku batak antara dua orang yang berasal dari satu leluhur yang sama (biasanya satu marga) dan belum mengetahui secara jelas dan pasti detail dari letak kekerabatannya (tarombo) siapakah yang secara kedudukan adat (parhundul sian partubu) lebih tua (hahang) atau lebih muda (anggi), dan juga masing-masing belum mengetahui secara generasi siapakah menjadi bapak (amang) dan siapa yang menjadi anak (anaha). Selanjutnya setelah antara kedua orang tersebut bercerita (martutur) dan menjelaskan posisi masing-masing menurut garis leluhur (martarombo) sampai ditemukannya kedudukan dan posisi yang sahih pada masing-masing mereka, secara otomatis penggunaan istilah ampara/appara/sanina/senina tersebut akan gugur dan tak lagi boleh digunakan, digantikan dengan sebutan menurut garis dan kedudukan yang ada seperti disebut sebelumnya, hahang, anggi, amanguda, amangtua, anaha, ompung dan lain-lain sesuai adat dan budaya masyarakat batak. Bila kita melihat kenyataan yang ada sekarang ini, penggunaan istilah ampara/appara/sanina/senina sudah membias dan meluas dari definisi, batasan dan aturan yang sebenarnya. Dimana dalam keseharian sudah jamak dan terbiasa kita saksikan pemakaian istilah ampara/appara/sanina/senina berlaku terhadap sesama orang yang tahu bahwa mereka berada dalam satu persatuan antar marga (parsadaan-ni pomparan) dalam sebuah silsilah kekerabatan. Bahkan meskipun sudah jelas-jelas memiliki marga yang berbeda namun masih memiliki kekerabatan yang erat dari leluhur yang sama dengan lainnya, istilah ampara/appara/sanina/senina selalu diucapkan dalam setiap hubungan dan komunikasi. KESIMPULAN Membias dan meluasnya lingkup pengertian ampara/appara/sanina/senina yang boleh dibenarkan hanyalah terbatas pada penyebutan dalam tindakan memberi atau menaruh rasa hormat dari yang secara kedudukan leluhur dan generasinya lebih tinggi (abang/hahang) kepada yang lebih rendah (adik/anggi). Sebagai penutup, akhirnya semua berpaling kepada masing-masing individu untuk memahami setiap ucapan ampara/appara/sanina/senina yang dilakukan kepada rekan se-marganya (dongan tubu-na), dan yang lebih penting lagi mengerti bahwa pengucapan tersebut semata-mata hanyalah untuk menunjukkan kedekatan hubungan antar keturunan yang berasal dari satu leluhur yang sama. Sama juga seperti istilah “lae” yang telah popular dan melegenda lebih dulu, yang mana asal dan aslinya hanya berlaku bagi hubungan yang menunjukkan kekerabatan antara saudara ipar laki-laki, namun saat ini telah sangat meluas dan berlaku pada setiap ucapan dan panggilan antar sesama orang batak yang berlainan marga. Bahkan lebih dari itu, setiap orang yang bukan suku batak akan memanggil temannya orang batak dengan sebutan “lae”. Begitu juga dengan istilah “ito” seperti yang sama-sama kita ketahui. Akhir kata penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan dapat memberi kesegaran bagi kita semua. Untuk kekeliruan yang mungkin ada mohon diberikan tanggapan dan perbaikan dan untuk kekurangan yang pasti ada mohon diberikan tambahan sehingga tercapai tingkat kelengkapan dan kesempurnaannya. Gabe jala Horas Sumber : Facebook Tojo Sitorus.

1 komentar:

  1. Menyenangkan baca artikelmu yg satu ne...benar2 batak tulen, ga cuma rancak di labuah, tapi sampe ke akar2nya, denai jadi terkesima, tapi q mw minta sesuatu dari muh...ba'a kok mulai iko kito mar"AMPARA"...gimana????? by ampara hasianku..

    BalasHapus